Kisah Nabi Ibrahim Dalam Dakwah

Acra mabit tanggal 25 Muharram 1430 H mengambil materi dari Al Qur’an surat Al Ambiya’ :50-70

METODOLOGI DAKWAH NABI IBRAHIM

Ditulis oleh andrihasanhardiansyah di/pada Nopember 26, 2008
Oleh : Andri Hardiansyah

I. SEJARAH

Ibrahim dilahirkan di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak). Ayahnya bernama Azar, seorang ahli pembuat dan penjual patung. Nabi Ibrahim AS dihadapkan pada suatu kaum yang rusak, yang dipimpin oleh Raja Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti rakyatnya dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Sejak kecil Nabi Ibrahim AS selalu tertarik memikirkan kejadian-kejadian alam. Ia menyimpulkan bahwa keajaiban-keajaiban tsb pastilah diatur oleh satu kekuatan yang Maha Kuasa.

Semakin beranjak dewasa, Ibrahim mulai berbaur dengan masyarakat luas. Salah satu bentuk ketimpangan yang dilihatnya adalah besarnya perhatian masyarakat terhadap patung-patung. Nabi Ibrahim AS yang telah berketetapan hati untuk menyembah Allah SWT dan menjauhi berhala, memohon kepada Allah SWT agar kepadanya diperlihatkan kemampuan-Nya menghidupkan makhluk yang telah mati. Tujuannya adalah untuk mempertebal iman dan keyakinannya.

Allah SWT memenuhi permintaannya. Atas petunjuk Allah SWT, empat ekor burung dibunuh dan tubuhnya dilumatkan serta disatukan. Kemudian tubuh burung-burung itu dibagi menjadi empat dan masing-masing bagian diletakkan di atas puncak bukit yang terpisah satu sama lain. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk memanggil burung-burung tsb. Atas kuasa-Nya, burung yang sudah mati dan tubuhnya tercampur itu kembali hidup. Hilanglah segenap keragu-raguan hati Ibrahim AS tentang kebesaran Allah SWT.

Orang pertama yang mendapat dakwah Nabi Ibrahim AS adalah Azar, ayahnya sendiri. Azar sangat marah mendengar pernyataan bahwa anaknya tidak mempercayai berhala yang disembahnya, bahkan mengajak untuk memasuki kepercayaan baru menyembah Allah SWT. Ibrahim pun diusir dari rumah.

Ibrahim merencanakan untuk membuktikan kepada kaumnya tentang kesalahan mereka menyembah berhala. Kesempatan itu diperolehnya ketika penduduk Babylonia merayakan suatu hari besar dengan tinggal di luar kota selama berhari-hari. Ibrahim lalu memasuki tempat peribadatan kaumnya dan merusak semua berhala yang ada, kecuali sebuah patung yang besar. Oleh Ibrahim, di leher patung itu dikalungkan sebuah kapak. Akibat perbuatannya ini, Ibrahim ditangkap dan diadili. Namun ia menyatakan bahwa patung yang berkalung kapak itulah yang menghancurkan berhala-berhala mereka dan menyarankan para hakim untuk bertanya kepadanya. Tentu saja para hakim mengatakan bahwa berhala tidak mungkin dapat ditanyai. Saat itulah Nabi Ibrahim AS mengemukakan pemikirannya yang berisi dakwah menyembah Allah SWT.

Hakim memutuskan Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai hukumannya. Saat itulah mukjizat dari Allah SWT turun. Atas perintah Allah, api menjadi dingin dan Ibrahim pun selamat. Sejumlah orang yang menyaksikan kejadian ini mulai tertarik pada dakwah Ibrahim AS, namun mereka merasa takut pada penguasa.

Langkah dakwah Nabi Ibrahim AS benar-benar dibatasi oleh Raja Namrud dan kaki tangannya. Karena melihat kesempatan berdakwah yang sangat sempit, Ibrahim AS meninggalkan tanah airnya menuju Harran, suatu daerah di Palestina. Di sini ia menemukan penduduk yang menyembah binatang. Penduduk di wilayah ini menolak dakwah Nabi Ibrahim AS. Ibrahim AS yang saat itu telah menikah dengan Siti Sarah kemudian berhijrah ke Mesir. Di tempat ini Nabi Ibrahim AS berniaga, bertani, dan beternak. Kemajuan usahanya membuat iri penduduk Mesir sehingga ia pun kembali ke Palestina.

Setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Ibrahim dan Sarah tak kunjung dikaruniai seorang anak. Untuk memperoleh keturunan, Sarah mengizinkan suaminya untuk menikahi Siti Hajar, pembantu mereka. Dari pernikahan ini, lahirlah Ismail yang kemudian juga menjadi nabi. Ketika Nabi Ibrahim AS berusia 90 tahun, datang perintah Allah SWT agar ia meng-khitan dirinya, Ismail yang saat itu berusia 13 tahun, dan seluruh anggota keluarganya. Perintah ini segera dijalankan Nabi Ibrahim AS dan kemudian menjadi hal yang dijalankan nabi-nabi berikutnya hingga umat Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT juga memerintahkan Ibrahim AS untuk memperbaiki Ka’bah (Baitullah). Saat itu bangunan Ka’bah sebagai rumah suci sudah berdiri di Mekah. Bangunan ini diperbaikinya bersama Ismail AS. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 127. Ibrahim AS adalah nenek moyang bangsa Arab dan Israel. Keturunannya banyak yang menjadi nabi. Dalam riwayat dikatakan bahwa usia Nabi Ibrahim AS mencapai 175 tahun. Kisah Nabi Ibrahim AS terangkum dalam Al Qur’an, diantaranya surat Maryam: 41-48, Al-Anbiyâ: 51-72, dan Al-An’âm: 74-83.

II. NABI IBRAHIM DALAM MENGHADAPI MAD’U

Ada dua karakteristik mad’u yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS. Pertama, ada orang yang sudah tertutup hatinya. Tipe ini benar-benar sulit untuk didakwahi sekalipun sudah disampaikan dengan berbagai caradan pendekatan terbaik. Namum menarik kesimpulan seperti ini tidak dibolehkan kecuali jika jika dakwah telah diperjuangkan, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Nuh As[QS. Nuh:5-20]. Bukan hanya sekali atau dua kali mencoba lalu gagal dan memvonis mad’u tidak layak didakwahi. Kedua, tipe yang terbuka hatinya. Kerja dakwah ibarat sales yang menjajakan barang dagangan. Ia harus disajikan dengan cara yang baik dan menarik, benar. Lewat kisah nabi Ibrahim as, Qur’an menyajikan uslub (cara) yang baik dan menarik. Sedikitnya ada 9 Rambu dakwah yang dilakukan Nabi Ibrahim As, yaitu pada Surat Maryam 41-50 :

A. Berlaku lemah lembut dan menghindari kesan menggurui. Secara manusiawi, orang yang lebih tua tidak mau digurui oleh yang lebih muda. Bahkan cara ini harus dilakukan dimulai sampai pada tingkat pemanggilan yang sudah harus terkesan lembut. Allah swt berfirman : “Ingatlah ketika ia (Nabi Ibrahim) berkata kepada bapaknya : ‘wahai bapakku’” (Maryam 41). Pada kata yaa abati dalam bahasa arab digunakan lilmulathafah yaitu panggilan yang mengesankan rasa sayang dan manja. Insya Allah, jika hati orang tua masih terbuka, panggilan yang tampaknya sederhana ini akan tergugah jiwanya.

B. Memiliki hujjah yang kuat dan mematikan. Ini seperti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim As dalam QS Maryam:42. Suatu penjelasan yang sederhana, namun mampu menjadikan orang tuanya berpikir secara logis terhadap kesalahan yang dilakukan.

C. Selalu berupaya menambah ilmu pengetahuan dan mampu menampakkan keilmiahan dakwah yang dibawanya. Inilah yang tersirat dalam kata-kata Nabiyullah Ibrahim as. pada orang tuanya (Maryam : 43).

D. Mampu menjelaskan jalan-jalan kesesatan yang ditebarkan setan dan tentaranya (maryam : 44).

E. Memiliki ruhiah yang tinggi, sehingga mampu mengingatkan orang tua dengan adzab Allah yang ditimpakan baik di dunia maupun di akhirat bagi orang yang terus-menerus jauh dari ajaran Allah. (Maryam : 45).

F. Memiliki kesiapan yang tinggi mengenai resiko dakwah. Misal, pengucilan, pengusiran, dan mungkin kekerasan. Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqash adalah di antara sahabat yang merasakan beratnya tantangan ini. Namun hal ini berhasil mereka hadapi dengan sikap tsabat (teguh). QS : 19:46.

G. Menjaga hubungan baik dengan orang tua sekalipun menjadi penantang dakwah. Tetap senantiasa mendoakan agar mereka kembali ke jalan yang diridhai Allah. Itupun yang dilakukan Ibrahim as dalam QS Maryam : 47.

H. Seorang da’i harus teguh dalam menghadapi ujian da’wah dari orang tua. (Maryam : 4

III. BEBERAPA FAKTOR YANG DIPELIHARA NABI IBRAHIM DALAM BERDAKWAH

Nabi Ibrahim as. adalah salah seorang manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini. Beliau sering disebut-sebut sebagai “bapak ajaran Tauhid”, meskipun sebenarnya sudah banyak Nabi dan Rasul sebelumnya yang sama-sama menyebarkan ajaran Tauhid. Tentu ada alasannya mengapa beliau memiliki nama yang harum, sehingga beliau senantiasa dikenang, ribuan tahun setelah masa hidupnya.

Dalam Al-Qur’an terdapat sebuah surah khusus yang diberi judul “Ibrahim”. Tentu Allah SWT memiliki alasan yang sangat bagus mengapa sosok Luar biasa ini dijadikan sebuah titik fokus dalam salah satu surat di dalam Kitab Suci-Nya. Secara spesifik, Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan salah satu episode dalam hidupnya, yaitu serangkaian doa yang pernah diucapkannya dahulu kala. Setiap Muslim – khususnya aktifis dakwah – bisa mengambil banyak pelajaran dari episode ini.

Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, “Ya Rabbi, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala,”
(Q.S. Ibraahiim 14 : 35)

Prasyarat utama dari keberhasilan dakwah adalah keamanan. Jika tempat kita berdakwah tidak aman, maka dakwah tentu tidak bisa dilaksanakan secara maksimal dan memerlukan beberapa strategi khusus, misalnya secara sembunyi-sembunyi. Metode sembunyi-sembunyi ini pernah digunakan pula oleh Nabi Muhammad saw. pada awal dakwahnya, karena pada saat itu pengikut beliau masih sangat sedikit, dan ajaran Islam dianggap sebagai musuh oleh para penyembah berhala, khususnya di Mekkah.

Prasyarat berikutnya adalah aqidah dari para aktifis dakwah itu sendiri. Bagaimana mungkin ajaran Tauhid bisa disebarkan oleh seseorang yang menyembah berhala? Nabi Ibrahim as. bahkan tidak malu-malu untuk memohon perlindungan Allah SWT agar ia dan anak-cucunya tidak sampai tergoda untuk menjadi penyembah berhala. Dalam hal ini, beliau telah berpikir sangat jauh. Nabi Ibrahim as. tahu bahwa berhala bukan hanya batu atau kayu yang dipahat menjadi suatu bentuk dan disembah-sembah. Kekuasaan, kehormatan, ego pribadi dan uang pun bisa menjadi berhala. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. benar-benar berdoa agar Allah tidak memalingkannya dari Tauhidullah kepada berhala-berhala yang kadang sulit untuk diidentifikasi.

“Ya Rabbi, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang,”
(Q.S. Ibraahiim [14] : 36)

Kita dapat melihat sikap yang menjadi ciri khas Nabi Ibrahim as. di sini, yaitu lembut dan penuh kasih sayang kepada siapa pun. Mengomentari masalah penyelewengan aqidah, Nabi Ibrahim as. sama sekali tidak membenci para penyembah berhala. Sebaliknya, beliau mengadukan keberadaan berhala-berhala tersebut yang dianggapnya sebagai oknum yang menyebabkan banyak orang tersesat. Beginilah sikap seorang aktifis dakwah sejati. Jika melihat ada orang yang berbuat menyimpang, ia tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya. Mereka melakukannya karena memiliki kasih sayang yang amat besar pada semua objek dakwahnya. Mereka begitu mencintai setiap saudaranya sehingga ingin menjauhkan mereka dari segala keburukan. Inilah motivasi dakwah yang benar.

Seseorang yang membenci objek dakwahnya selamanya tidak akan berhasil menyelesaikan misi dakwah. Tidak akan ada yang mau mendengarkannya, karena tidak ada orang yang mau dibenci. Tugas seorang kader dakwah adalah menyadarkan objek-objek dakwahnya bahwa jalan yang ditentukan oleh Allah adalah jalan yang terbaik. Jika mereka tidak mau mengikutinya, maka mereka akan menganiaya dirinya sendiri.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim as. menegaskan bahwa orang-orang yang mengikutinya adalah bagian dari golongannya. Akan tetapi, beliau tidak mengutuk mereka yang menolak dakwahnya. Di sisi lain, beliau juga tidak diperbolehkan untuk mendoakan orang-orang kafir. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. hanya menegaskan bahwa sesungguhnya Allah memiliki sifat yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Sekali lagi, jelaslah bagi kita bahwa Rasul yang agung ini adalah seseorang yang memiliki hati sangat lembut, bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya sekalipun.

Selain itu, beliau tidak mengatakan “barang siapa yang tidak mengikutiku,” namun menggunakan kata-kata : “barang siapa mendurhakaiku”. Artinya, beliau tidak menuntut orang-orang untuk mengikutinya tanpa sebab. ‘Durhaka’ adalah istilah yang kita gunakan ketika ada seseorang yang tidak menunaikan hak kita, sementara kita telah menunaikan haknya. Anak yang melawan orang tua disebut durhaka, demikian juga orang tua yang tidak memberikan hak-hak pada anaknya. Dengan demikian, Nabi Ibrahim as. hanya ‘mengecam’ orang-orang yang memfitnahnya atau tidak mengindahkan argumen-argumen logis yang telah diajukannya. Tidak mentang-mentang karena beliau seorang Rasul, lantas semua orang dituntut untuk mengikutinya. Nabi Ibrahim as. tidak mengelak dari kewajibannya untuk menyampaikan kebenaran tanpa kenal lelah. Beliau senantiasa siap untuk berdiskusi dengan siapa pun dan menyampaikan argumen-argumen yang baik. Seorang aktifis dakwah pun hendaknya memposisikan dirinya dengan cara yang sama.

“Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, yang demikian itu agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizqi dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 37)

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as. untuk meninggalkan anak istrinya (Nabi Ismail as. dan ibunya) di sebuah daerah tandus yang kini dikenal sebagai kota Mekkah. Selain karena yakin kepada pertolongan Allah, tentu ada alasan lain mengapa Nabi Ibrahim as. mau meninggalkan kedua orang yang sangat dicintainya itu di tempat tandus tak bertuan. Nabi Ibrahim as. merasa yakin pada kualitas diri keluarganya. Tidak mungkin beliau meninggalkan mereka berdua hanya dengan berharap pada pertolongan Allah semata, karena beliau pastilah sangat memahami makna tawakkal.

Bagi seorang kader dakwah, keluarga adalah benteng pertama yang harus dibangun setelah dirinya sendiri. Tidak ada alasan membenahi orang lain sementara keluarga sendiri dibiarkan terbengkalai. Ini adalah suatu kekeliruan yang amat fatal. Seluruh anggota keluarga kita harus dididik dengan baik sehingga memiliki kualitas yang jauh di atas standar, standar apa pun itu. Dengan demikian, umat Islam akan dipenuhi oleh para pemuda yang dibesarkan di dalam keluarga yang amat tangguh.

Lihatlah kekhawatiran Nabi Ibrahim as. yang terlihat dengan jelas di dalam doanya! Beliau tidak khawatir ajal menjemput anak istrinya. Jika mereka benar-benar menemui ajalnya di sana, maka setidaknya mereka wafat dalam keadaan mematuhi perintah Allah SWT. Yang dikhawatirkan adalah aqidah keduanya. Nabi Ibrahim as. memohon agar Allah memberikan kecenderungan pada mereka agar terus melaksanakan shalat dengan penuh komitmen. Beliau pun memohon berbagai kebaikan untuk mereka, bukan untuk memanjakan mereka, namun dengan harapan agar mereka senantiasa bersyukur pada Allah. Aqidah adalah hal pertama yang harus kita pikirkan demi kebaikan keluarga kita.

“Rabb, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 3

Apa alasannya Nabi Ibrahim as. mengucapkan doa semacam ini? Hanya sekedar penegasan bahwa Allah Maha Tahu? Nampaknya tidak.

Kalau kita membaca doa di atas dan mencoba memahami betul maknanya, kita akan melihat bahwa bahkan seorang manusia saleh sekelas Nabi Ibrahim as. sekalipun mengakui kelemahan dirinya. Kadang-kadang kita membuat kesalahan dan menutup-nutupinya dengan sejuta pembenaran. Kadang pembenaran itu kita sampaikan pada orang lain, kadang hanya disimpan di dalam hati untuk menekan rasa bersalah. Nabi Ibrahim as. bersikap sangat ksatria dengan mengakui bahwa dirinya pun memiliki potensi untuk melakukan kesalahan semacam itu. Karena itu, dengan doa ini, seolah ia menegaskan kepada Allah bahwa ia tidak pernah berusaha menyembunyikan apa pun dari-Nya, dan semoga ia dihindarkan dari keinginan semacam itu.

Seorang kader dakwah tidak terhindar dari kesalahan. Jika sampai tergelincir pada suatu kesalahan, kita tidak perlu menutup-nutupinya. ‘Status’ sebagai kader dakwah tidak perlu membuat kita merasa berat untuk mengakui kelemahan diri. Sebaliknya, dengan mengakui kesalahan secara ksatria, justru kita akan mendapat lebih banyak kehormatan.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabb-ku benar-benar Maha Mendengar doa.” (Q.S. Ibraahiim [14] : 39)

Dari sekian banyak nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya, Nabi Ibrahim as. menyebutkan salah satu yang dirasakannya sebagai nikmat terbesar, yaitu dua orang anak. Kehadiran keduanya sulit untuk diterima akal sehat, karena waktu itu Nabi Ibrahim as. telah berusia lanjut. Akan tetapi, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Kehadiran Ismail as. dan Ishaq as. tentu saja sangat patut untuk disyukuri. Keduanya adalah orang saleh, bahkan kemudian diangkat menjadi Nabi. Lagi-lagi Nabi Ibrahim as. menunjukkan pada semua kader dakwah penerusnya bahwa anak yang saleh adalah rizqi yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, harus dipahami bahwa salah satu tugas utama dari seseorang yang telah memiliki keturunan (sesibuk apa pun pekerjaannya) adalah membesarkan anaknya dengan baik.

“Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Rabb, perkenankanlah doaku,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 40)

Nabi Ibrahim as. tidak khawatir anak cucunya jatuh miskin. Beliau juga tidak khawatir jika mereka terbunuh atau disiksa di jalan dakwah. Asalkan mereka tetap memelihara aqidah-nya, maka keadaan tersebut sudah sangat ideal dalam pandangan beliau. Demikianlah pandangan seorang kader dakwah, tidak kurang dan tidak lebih.

“Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 41)

Seorang Rasul agung memohon ampun atas dosa-dosanya, sementara Allah sendiri telah menjamin nasibnya di akhirat kelak! Beginilah seorang manusia pilihan memelihara kerendahhatiannya. Tidak ada alasan untuk merasa suci di hadapan Allah, karena setiap orang pernah melakukan kesalahan. Di samping itu, kita hanya bisa masuk surga (atau terhindar dari neraka) jika Allah mengijinkannya. Bisakah kita menentang Allah, sekiranya Dia berkehendak lain?

Hal lainnya yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa Nabi Ibrahim as. sungguh-sungguh (seorang Nabi tidak akan menggunakan ucapan yang sia-sia, apalagi ketika berhadapan dengan Allah) mendoakan semua orang yang beriman. Serendah apa pun kadar keimanan seseorang, maka ia termasuk dalam doa Nabi Ibrahim as. tersebut. Banyak Mukmin yang membangkang, tapi bukan berarti ia sudah tidak beriman. Selama ia masih beriman, maka ia masih saudara kita, dan sungguh pantas bagi kita untuk mendoakannya.

Orang tua kita, ayah, ibu, paman, bibi, mungkin mertua merupakan obyek dakwah yang strategi. Kelompok inilah yang akan memberikan dukungan utuh bila aktivis muslim terhimpit cobaan dan ujian dakwah. Ini terjadi jika ortu sudah terkondisikan untuk dapat menerima dakwah. Sebaliknya, jika kelompok ini diabaikan maka boleh jadi akan menjadi bumerang bagi kita. Di sinilah perlunya kehati-hatian. Pendekatan yang salah dapat menimbulkan ekses yang tak sehat antara kita dengan orang tua. Bahkan tak jarang hubungan jadi terputus hanya karena kesalahan awal pada pendekatan.

IV. KESIMPULAN

1. Para da’i di jalan Alloh tidak akan mundur oleh perlawanan apapun, karena ia telah mempunyai kesiapan dan kemampuan untuk itu, mereka memiliki ketajaman pikiran dan kompetensi dibidang ini, tercakup dalam apa yang disebut sebagai “hidayah kebenaran” dengan hujjah yang matang, sehingga dengan gampang membedakan antara yang haq dan yang bathil.

2. Mengemukakan masalah tauhid dan syirik, iman dan kekafiran jelas dan tegas, tanpa ada keraguan sedikitpun dan tanpa rasa takut, mengahadapkan persoalan ini kepada ummat manusia dan menentang kebatilan mereka.

3. Berusaha mengungkapkan bahwa yang batil adalah batil dengan cara yang tak terbantahkan, dengan argumentasi yang kuat, semuanya dijelaskan tanpa ada rasat takut ataupun khawatir.

4. Keyakinan yang kokoh akan perlindungan dan pertolongan Allah, pada waktu dan tempat yang tepat, karena adalah kehendak Ilahiyah yang maha tinggi.

5. Penentangannya terhadap Raja yang mengklaim dirinya memiliki sifat-sifat ketuhanan.

Dalam hal ini Ibrahim telah membentengi dirinya dengan argumentasi yang kuat dan dapat mematahkan segala argumentasi lawan bicaranya dengan telak. Hal ini tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 258 :

A. Bahwa para Da’i kepada Allah akan mendapatkan perlawanan pertama kali adalah dari para penguasa yang cenderung untuk lupa diri dan tidak mau bersyukur terhadap nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka. Tapi memang demikianlah manusia, suka melebihi batas kalau melihat dirinya berkecukupan.

B. Untuk mendapatkan argumentasi dan sandaran kebenaran yang tidak tergoyahkan, maka seorang da’i tentunya harus memperluas ilmu pengetahuannya, sehingga setiap masalah dapat dimengerti ujung pangkalnya.

C. Allah selalu bersama dengan kebenaran, bersama para da’i yang membuat musuh-musuhnya bungkam dan klaim mereka terpatahkan.

D. Menolak melakukan ibadah kepada selain Allah bagi para hamba, walaupun orang yang dihadapi seorang da’I adalah ayah atau ibunya sendiri dimana mereka adalah manusia yang paling dekat dengan hubungan darah. Tetapi kebenaran diletakan diatas segalanya, termasuk hubungan darah, hubungan ayah-anak, hubungan kekerabatan atau apapun.

E. Menggunakan saran dan jurus yang tepat dalam menghadapi para penyembah tuhan selain Allah untuk mengalahkan hujah mereka. Ibrahim batal menuhankan bintang, bulan dan matahari karena semua tenggelam, walaupun bulan tampak lebih besar dari bintang dan matahari tampak lebih perkasa dari pada bulan tetapi karena sama-sama tenggelam dan tidak muncul lagi kecuali waktunya yang sudah ditentunkan maka Ibrahim menggugurkan ketuhanan benda-benda langit tersebut. Kemudian menemukan definisi tentang tuhan, yang pasti tuhan sebenarnya tidak mungkin tenggelam atau sirna, karean dia adalah tuhan langit dan bumi, tuhan manusia dan segala yang ada. Setelah itu ibrahim mendeklarasikan ketidak terlibatannya dalam ke musyrikan.

F. Ainul Yaqiin bahwa Allah SWT akan selalu memberikan inspirasi kepada penyeru kepada- NYA untuk memperkuat hujjah mereka, Allah akan selalu mendukung dan meninggikan derajat bagi mereka yang bersabar dan selalu berharap kepada Allah. Itulah janji Allah kepada para da’i illaalah di setiap saat sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat al-qur’an al- kariem.

G. Hakikat seluruh permukaan bumi ini adalah milik Allah, maka setiap da’i tidak boleh merasa asing atau tersiksa diluar tanah kelahirannya, sepanjang dia datang ketempat itu dalam rangka dakwah ilallah. Hal itu sama yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Ibrahim telah mengembara dari irak, palestina, yordan, hejaz, mesir dan palestina untuk kedua kalinya.

H. Hijrah yang dicontohkan Nabi Ibrahim diniatkan karena Allah dan menuju kepada-Nya (melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya). Hijrah bukan untuk mencari keselamatan atau mencari kemegahan, atau untuk tujuan-tujuan duniawi.

I. Para dai selalu dan selamanya harus mencari “tanah garapan” yang baru, dimana dia bisa menyeru kepada Allah . ini dilakukan bila misalnya telah “sempit” di kediamannya semula.

J. Paham yang benar tentang kecintaan pada tanah air adalah tempat mana suara kebenaran terdengar nyaring dan disembah didalamnya Allah semata, tiada sekutu baginya.

V. REFERENSI

i. Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Mendulang Mutiara Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

ii. Syamsuddin Noor, S.Ag, Dahsyatnya Doa Para Nabi

iii. Abu Nizhan, Buku Pintar Al-Qur`an – Halaman 158

iv. Shalat for Character Building – Halaman 159

v. Nafron Hasjim, W. A. L. Stokhof – 1993, Kisasu l-Anbiya: karya sastra yang bertolak dari Quran serta teks kisah Nabi – Halaman 327

vi. Dr. Jerald F. Dirks, Abrahamic Faiths – Halaman 46

vii. Fadlun Amir – 1990, Kapita selekta mutiara Islam – Halaman 76

viii. Firdaus A. N. – 1991, Panji-panji dakwah – Halaman 19

ix. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Serial media dakwah – Halaman 31

x. Zainuddin, Mahfudh Syamsul Hadi M. R., Muaddib Aminan A. R., Cholil Uman – 1994,
xi. Rahasia keberhasilan dakwah K.H. Zainuddin M.Z. – Halaman 131

xii. Ibn Taymiyyah, Jangan Biarkan Penyakit Hati Bersemi – Halaman 204

xiii. Abdul Hadi Awang , Beriman Kepada Rasul – Halaman 26

xiv. e-books: http://www.google.com/books?hl=en&uid=11984674828539566613

xv. Andri blogspot : http://andrihardiansyah.blogspot.com/

About these ads

5 comments on “Kisah Nabi Ibrahim Dalam Dakwah

  1. sebagai tambahan referensi silahkan baca artikel saya di ;

    DAP-KISAH-ABRAHAM-DALAM-BIBLE

    dan ;

    Dan-Ibrahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s