SIROH NABAWIYAH

(Perjalanan Hidup Nabi)

Yang termasuk dalam ruang lingkup siroh nabawiyah pada dasarnya bukan hanya perjalanan hidup nabi Muhammad SAW, akan tetapi mencakup perjalanan hidup para nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk membawa misi risalah serta mengatur bumi ini dengan aturan dan ketentuan Allah SWT.
Pada risalah yang singkat ini kami ingin mengetengahkan rangkuman perjalanan hidup 5 diantara para nabi yang termasuk dalam Ulul Azmi sebagaimana yang termaktub dalam al qur’an surat Asy Syura : 13.
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

13. Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Kelima nabi yang disebut dalam ayat ini punya beberapa kesamaan dan beberapa perbedaan dalam perjalanan hidup beliau.
Nabi Ibrhaim misalnya Allah utus untuk menyampaikan risalah kepada umat yang berada di bawah kepemimpinan seorang raja yang sangat hebat luar biasa bernama Namrud. Kehebatan Namrut ini tidak dapat ditandangi bahkan oleh Fir’aun sekalipun dilihat dari sisi loyalitas dan ketaatan rakyat yang dipimpinnya. Dia adalah sosok seorang raja (Kafir) yang “Sangat Bijaksana, santun, dan tegas” bahkan ketika menjatuhkan hukum kepada Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala mereka beliau membuka sidang terbuka atas Ibrahim AS, sehingga disaksikan oleh seluruh rakyatnya sampai jatuhlah keputusan untuk membakar Ibrahim.
Itu berlangsung setelah sekian lama Nabi Ibrahim berdakwah kesana kemari mengajak umatnya untuk memeluk Din Allah tetapi tak satu pun diantara mereka yang mengikuti jejak beliau, entah karena taat kepada Namrut atau karena takut kepadanya.
Bagaimanapun hebatnya Fir’aun serta tentaranya, serta bagaimanapun kejamnya dia, toh masih ada rakyatnya yang mengikuti seruan Musa AS meski secara sembunyi-sembunyi (QS. Yunus : 83 )
فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ

83. Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Sementara terhadap Raja Namrud tidak satupun rakyatnya yang bersedia meninggalkan rajanya ataupun mengikuti seruan Ibrahim meskipun hanya dengan sembunyi-sembunyi. Luar Biasa !
Sehebat manapun seorang raja di jaman manapun agaknya belum ada yang bisa menandingi kehebatan Namrud. Kepada orang seperti inilah, Allah mengutus nabi pilihan (Ibrahim) yang menjadi penghulu para Nabi yang diikuti Milladnya (QS. An Nahl : 123)
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

123. Kemudian Kami wahyukan kepadamu : “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Bahkan sampai Ibrahim AS dibakar hidup-hidup pun tak seorang yang bergeming dari mentaati Namrud sehingga Allah juluki Ibrahim sebagai Umat meskipun sendirian. (QS. An Nahl : 120)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

120. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan ,

Setelah melalui beberapa proses dan beberapa ujian dari Allah SWT (QS. Wa ijib tala)
Setelah proses ujian ini beliau lalui Allah kemudian menyatakan Inni ja iluka linnasi imama (Aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia) dan Allah SWT dengan takdir dan kebesarannya membinasakan Namrud dengan seekor lalat kecil yang masuk ke hidungnya, beranak pinak dan tidak hendak keluar hingga dia membenturkan kepalanya kepohon – pohon dan batu-batu sembari menahan rasa sakit hingga diapun menemui ajalnya.
Allah telah membinasakan musuh-Nya dengan kekuasaan Allah dan ketabahan serta kesabaran Ibrahim, bukan karena kehebatan Ibrahim dalam melawan musuh-Nya.
Begitu pula Nabi Musa AS, menghadapi tentara Fir’aun yang begitu hebat dengan segala kelemahan yang ada pada biliau sebagai seorang Nabi. Nabi yang dipilih Allah ini untuk menyampaikan risalah-Nya yang sangat penting kepada umat yang berada dibawah kekuasaan Fir’aun dan bala tentaranya, Allah melebihkannya dengan beberapa kekurangan : Kurang fasih lisannya dalam berbicara, kurang harta bendanya, kurang kekuasaannya, kurang pengikut-pengikutnya, dan berbagai kekurangan lainnya. Bahkan beliau melalui beberapa tahun dalam hidupnya dengan mengasingkan diri di tempat persembunyiannya karena takut akan kejaran tentara Fir’aun karena dengan tidak sengaja beliau telah membunuh seorang yang berasal dari Kubu mereka (QS. Al Qashash : 15)
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ

15. Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya dan seorang dari musuhnya. Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata.

Jika Musa ini hidup pada jaman kita sekarang, kemudian datang menyeru kita untuk mengikutinya atau menjadikannya sebagai panutan dan pemimpin kita, bisa jadi serta merta kita akan mengatakan “tidaklah patut kita dipimpin oleh seorang yang tidak kredibel” begitulah yang dikatakan Fir’aun (QS. Al Qashash : 20 )

Sungguh alasan yang masuk akal bagi orang yang mengira dirinya berakal.
Kalau ada seorang diantara kita yang merasa punya kewajiban dakwah, sementara disisi lain dia punya kekurangan dalam menyampaikan dakwah, tidak lancar berbicara misalnya atau suka grogi didepan “forum orang-orang besar” maka ketahuilah tidaklah kita lebih buruk dari Musa dalam berbicara menyampaikan risalah dan tidaklah orang yang kita dakwahi itu lebih hebat dari Fir’aun, maka mengapa kita harus minder !
Dengan gigih Musa menyampaikan risalah sekembali dari pelarian beliau selama 10 tahun. Beliaupun mulai mencari jalan untuk dapat menemui Fir’aun secara langsung. Untuk menembus birokrasi Fir’aun ini Musa AS memerlukan waktu tidak kurang dari 2 tahun hingga baru dapat menemui langsung dengan Fir’aun. Suatu kegigihan yang luar biasa.
Setiba di hadapan Fir’aun dengan ditemani Harun saudara beliau sekaligus penterjemah atas ucapan yang sulit dimengerti oleh orang lain, beliaupun menyampaikan misinya seperti yang Allah perintahkan (QS. Kaolan laiyinan)
Fir’aun pun mengajukan tantangan sebagaimana Namrud juga mengajukan tantangan kepada Ibrahim bahwa dia mampu menghidupkan dan mematikan, yang tidak dibantah langsung oleh Ibrahim melainkan dibalas dengan tantangan yang lebih besar, bahwa Allah mendatangkan matahari dari timur.
Terhadap Musa, Fir’aun menantang dengan kehebatan sihirnya tetapi Allah mendatangkan Mu’jizat yang lebih hebat dari sihir itu. (QS. )
Ketika itu serta merta para tukang sihir Fir’aun bersujud seraya berkata Aamanna birobbi Musa wa Haru (kami beriman kepada Robnya Musa dan Harun). Fir’aun berkata “Bagaimana kalian berani beriman sebelum aku mengijinkan kalian” (QS…..) sesungguhnya ia itu hanya lebih hebat sihirnya dari kalian. Tetapi para tukang sihir itu tidak perduli lagi dan tidak hendak mereka berpaling dari keyakinannya meski disiksa dengan berbagai penyiksaan yang tiada tara.
Demikianlah ketika Allah menghendaki untuk menjadikan seseorang beriman dengan teguh, tak tergoyahkan meskipun mereka belum pernah mengikuti majelis-majelis ilmu ataupun mengikuti tahapan-tahapan pengkaderan serta segala macam prosedur pembinaan. Diantara mereka ada yang digergaji dari kepala hingga terbelah dua, ada yang dipotong kaki dan tangan secara bersilangan, ada yang diikat, disalib dipohon kurma sampai mati serta berbagai bentuk penyiksaan lain yang sangat biadab, akan tetapi tidak sedikitpun membuat mereka goyah, apalagi berpaling untuk tunduk kepada Fir’aun. Padahal orang yang diikutinya itu (Musa AS) jangankan untuk berpidato berbicarapun tidak jelas, amatlah jauh jika dibandingkan dengan kehebatan Fir’aun.
Tidak hanya sampai disitu, karena orang yang mengikuti Musa secara terang-terangan disiksa dan dianiaya, maka ada yang mengikuti Musa dengan sembunyi-sembunyi karena takut kepada Fir’aun (QS. Ala khaufin min Fir’aun)
Nabi Musa tetap saja melancarkan dakwahnya dan Allah pun terus menerus menurunkan mu’jizat-Nya (ayat-ayat-Nya) (QS. Wadofadi’)
Setiap datang kekuasaan Allah, Fir’aun pun mencari jalan untuk mengatasinya sampai ketika dia sadar bahwa dia tidak mampu sama sekali maka datanglah dia kepada Musa memohon untuk dapat terhindari dari bencana dengan do’a Musa dengan janji bahwa dia akan beriman setelahnya. Musa pun berdo’a kepada Allah seperti yang diusulkan Fir’aun. Ketika bencana sirna, serta merta Fir’aun pun berkata “Sungguh ini hanyalah sihir belaka”. Ketika jelas pengingkaran dari Fir’aun, datang pula azab yang lain.
Diterangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir. Bahwa suatu ketika Fir’aun pernah memerintahkan para ulamanya untuk berkumpul disuatu lapangan untuk memohon kepada Allah agar terhindar dari bencana (istigosah), akan tetapi sia-sia saja, maka diapun kembali kepada Musa dan meminta untuk berdo’a seperti yang dilakukannya pada waktu yang lalu.
Hal demikian berlangsung berulang kali dan Musa pun tetap melayani dengan sabar hingga Fir’aun berkesimpulan bahwa Musa adalah biang keladi dari semua bencana yang terjadi. Dia lalu mengerahkan seluruh bala tentaranya dan diapun turut di dalam pasukan yang besar untuk membinasakan Musa bersama segelintir kaumnya. Dengan izin Allah sekonyong-konyong datanglah seorang pembawa berita (QS. Al Qashash : 20)
وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلأ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

20. Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu.

Mendengar peringatan itu, Musa menghimpun segelintir personil yang beriman kepadanya untuk melarikan diri, bukan untuk bertahan atau melawan. Sekali lagi untuk melarikan diri, karena merasa tidak berdaya menghadapi kehebatan Fir’aun dan tentaranya. Kafilah kecil ini terus berlari hingga terpojok di tepi Laut Merah. Pengikut Musa berkata “Habislah riwayat kita sekarang, akan tertangkap oleh tentara Fir’aun” dengan sigap Musa membantah Kalla inna maiya robbi sayahdin (Sekali-kali tidak sesungguhnya bersamaku ini ada Rabb ku yang akan menunjukkan jalan bagiku !). Allahpun mewahyukan kepada Musa Anidribbiasakol bahar (Ketuklah laut dengan tongkatmu). Dengan kehendak Allah Musa selamat dan Fir’aun yang hebat tenggelam dengan seluruh tentaranya, bukan karena kehebatan Musa, bukan karena dikejar-kejar oleh Musa tetapi karena justru merekalah yang mengejar Musa dan para sahabatnya.
Allah berfirman (QS. ……..)
Istana Fir’aun yang megah itu, serta merta diwarisi oleh Musa bersama segelintir pengikutnya dan orangpun beriman secara berbondong-bondong. Musa pun menduduki singgasana Fir’aun begitu saja, hanya dengan sabar dan kekuasaan Allah.
Firman Allah (Wakana haqqan alaina nasrul mu’minin).
Berbeda dengan nabi Musa, dengan segenap kekurangannya, Allah mengutus nabi Isa dalam sosok seorang pemuda luar biasa yang demikian memukau, dengan kehebatan beliau atas izin Allah untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti kusta, lepra dan lain lain. Beliau dapat mengetahui apa yang mereka makan dan apa yang mereka sembunyikan dirumah mereka. Bahkan sejak bayi, Allah sudah memberi beliau mukjizat untuk dapat berbicara. Meski demikian, tidak serta merta kaumnya mengikutinya dalam menyebarkan risasalah Allah. Bersama Nabi Isa ini Allah turunkan kitab Injil sebagai pedoman dan petunjuk bagi mereka, akan tetapi tetap saja para nabi itu mendapat pengingkaran dari kaumnya. Sebagaimana firman Allah (QS. Faqok kuzzibat)
Ternyata mu’jizat yang terang dan jelas, keterangan yang rinci serta hujjah yang jelas tak terbantahkan sekalipun tidaklah menjadi jaminan bahwa dengan itu umat pasti akan bersegera mengikuti ajaran Allah.
Nabi Isa AS dengan segela kepiawaiannya ini bahkan hanya diikuti oleh segelintir pengikut setianya yang disebut Allah sebagai Hawariyyun. Sebagaimana firman Allah (QS. Kol hawariyyun)
Dalam perjalanannya Nabi Isa ini sempat pula dikejar-kejar oleh kaumnya untuk dibunuh atau disalib yang akhirnya dengan izin Allah beliau diselamatkan dan diganti dengan Yudas Askariot, pengikut beliau yang berkhianat, yang wajahnya diserupakan Allah dengan wajah Isa, sehingga dialah yang disalib. Firman Allah (QS. Syubbihalahum)
Ketiga nabi yang disebutkan diatas, Allah tugaskan dengan suatu perintah yang sama yaitu An Aqimuddin wala tatafarraqu fihi (yaitu tegakkanlah Din dan janganlah berpecah belah didalamnya). Demikian pula yang Allah syariatkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Allah wasiatkan kepada Nabi Nuh AS.
950 tahun Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya. Sungguh bukan waktu yang singkat bagi sebuah perjalanan dakwah jika dibandingkan dengan hasil yang didapatkan. Dalam tenggang masa yang panjang ini Nabi Nuh AS hanya ditakdirkan Allah untuk mendapat 80 pengikut dari setiap kota yang berbeda-beda, sampai-sampai ketika sudah tidak ada lagi disuatu kota orang yang mau mengikuti dakwah Nabi Nuh kecuali seorang itu saja, barulah Nabi Nuh berpindah dari kota itu ke kota yang lain. Demikian seterusnya hingga 950 tahun lamanya.
Ketika firman Allah QS. Nuh : …… (lan yu’mina)
Tidak ada lagi harapan akan ada seorangpun yang masih akan beriman, maka Allah memerintahkan Nuh untuk mengajak semua orang-orang yang beriman itu untuk naik ke gunung dan merekapun mentaatinya. Hal ini sama persis dengan isyarat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Huzaifah Al Yaman RA dalam menjawab pertanyaan beliau RA tentang apa yang harus dilakukan jika sudah tidak ada jama’ah dan tidak pula ada imamah. Rasulullah mengingatkan untuk meninggalkan semua firqoh dan mengasingkan diri meski harus hidup dari memakan akar-akar kayu. Perintah-Nya jelas, tinggalkan semua firqoh bukan persatukan semua firqoh.
Nabi Nuh AS beserta pengikutnya dalam masa uzlahnya Allah perintahkan untuk membuat bahtera diatas gunung atas komando dan isyarat dari Allah yang setelah bahtera ini rampung, maka Allah berfirman : (QS. Fattahnya abwaba)
Sungguh fonomena yang sangat luar biasa dimana untuk menyelamatkan iman orang yang hanya 80 ini, Allah binasakan semua manusia yang hidup pada masa itu, tidak perduli besar atau kecil, lelaki atau perempuan, sudah dewasa atau masih bayi bahkan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhanpun ikut dibinasakan Allah bersama orang yang ingkar kecuali beberapa spesies dari binatang dan tumbuhan itu yang Allah perintahkan Nuh untuk mengangkut bersamanya dalam bahtera. Allahu Akbar…!
Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi pembawa misi risalah dan pengikut kebenaran bahwa meskipun jumlah mereka sangat sedikit disbanding orang yang mengingkari kebenaran, Allah tetap punya jalan untuk memenangkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan meskipun konsekwensinya harus membinasakan semua apapun yang harus ikut binasa. Berbesar hatilah dalam mengikuti kebenaran meski betapa pahit dan getirnya, ingatlah bahwa pertolongan Allah pasti akan datang. Dan ingatlah bahwa pertolongan Allah itu dekat.
Dengan misi yang sama yaitu An aqimuddin….. , Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan Lil Alamin. Beliau yang lahir dalam keadaan yatim ini, melalui masa kanak-kanak dan mudanya dalam keadaan yatim piatu dibawah asuhan paman dan kakeknya dengan segala kesederhanaan hidup secara ekonomi. Di kota Mekkah, ditengah orang-orang musyrik penyembah berhala beliau tumbuh dan dibesarkan hingga Allah menurunkan wahyu kepada beliau. Ketika waktu ini disampaikan mulailah satu demi satu orang membenarkan dan mengikuti risalah beliau diantara sekian banyak orang yang tidak percaya atau tidak hendak mengikuti kepemimpinan seorang anak yatim yang miskin pengembala domba yang tidak punya status sosial yang memadai dalam lingkungan masyarakatnya kecuali hanya sekedar nasab beliau yang mulia atau kejujuran beliau hingga digelari Al Amin. Para pembesar qurays sunguh-sungguh merasa tidak patut untuk tunduk kepada seorang sosok pribadi seperti Muhammad ini, kehebatan apa yang bisa dibanggakan darinya tanpa kekayaan, tanpa kekuasaan, dan tidak pula banyak orang mengikuti beliau kala itu. Mereka merasa sangatlah tidak layak jika mereka harus menundukkan kepala dihadapan Muhammad yang waktu itu baru diutus Allah menjadi Nabi, baru saja menyampaikan misi risalah dan baru memiliki beberapa pengikut yang menurut mereka hanya sekedar di hitung jari. Kita melihat sosok Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Nabi yang agung, yang hebat, yang luar biasa, setelah kemenangan demi kemenangan dan setelah keberhasilan misinya yang luar biasa. Cobalah renungkan sosok Nabi Muhammad SAW, ketika beliau adalah seorang pemuda berusia 40 tahun yang menjadi suami seorang janda bernama Khadijah, tidak mempunyai kedudukan di Darun Nadwah, seorang miskin yang dalam tanda kutip numpang pada kekayaan istrinya, tiba-tiba datang menyampaikan kepada kaumnya bahwa dia diutus Allah untuk menyampaikan risalah kebenaran dan kaumnya yang hebat-hebat itu mestilah menjadi pengikutnya atau dalam kata lain harus tunduk patuh dibawah kepemimpinan beliau. Bagaimana mungkin? Akan diletakkan dimana muka Abu Sofyan, muka Abu Jahal, Abul Lahab, Utbah dan Syaibah bin Rabiah serta tokoh-tokoh Quraisy lainnya, para pembesar Darun Nadwah, para pejabat-pejabat pemerintah kala itu yang kaya raya dan punya banyak pengikut, akan diletakkan dimana muka mereka jika harus tunduk begitu saja kepada sosok pemuda yang bernama Muhammad ini? Sungguh mustahil…..!
Maka mulailah para tokoh, pejabat Darun Nadwah itu melancarkan aksinya untuk menyelamatkan gengsi mereka. Berbagai bentuk permusuhan serta makar. Tidak ayal lagi harus dihadapi oleh beliau dan para sahabat setia dengan sabar dan tabah. Nabi Muhammad SAW yang baru saja mengumumkan dirinya sebagai pemimpin Umat dan Nabi akhir zaman ini kemudian dihadapkan kepada kondisi dimana beliau melihat dengan mata kepala sendiri seorang sahabat setia seperti Amar bin Yasir misalnya yang ayah dan ibunya disiksa, dianiaya dan diperlakukan dengan keji, sementara beliau tidak dapat berbuat apa-apa. Beliau hanya dapat menitikkan air mata seraya berkata “sobron aala yaasir fainna masirakum al jannah” (Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian adalah surga). Ketika Bilal di dzolimi, dicambuk seharian, di jemur di padang pasir yang panas membara ditengah hari yang sangat terik, ditelentangkan dalam keadaan tidak berdaya dan ditindih dengan batu besar hingga hampir-hampir tidak sadarkan diri, bahkan orang-orang yang lewat ditempat itu dan melihat bagaimana Umayah bin Kholaf menyiksa budaknya tak tahan untuk tidak menitikkan air mata hingga Abu Bakar datang menebus dan memerdekakan Bilal. Orang kafir Qurays saat itu ada yang mengatakan kalau memang Muhammad itu benar pemimpin dan nabi akhir zaman, kenapa dia tidak bisa menyelamatkan Bilal serta orang-orang lain yang dianiaya dan didzolimi…?
Akan tetapi pengikut setia beliau yang beriman tetap saja mentaati beliau dengan ketaatan yang sedemikian rupa, yang mana ketaatan itu tidak hendak mereka melepaskan meski nyawa mereka terancam melayang.
Tahun demi tahun perjalanan dakwah Rasulullah di Mekkah telah mengalami ujian dan cobaan yang demikian beratnya hingga mereka berkata-kata “Bilakah datang pertolongan Allah” (QS. Al Baqarah : 214). Begitu banyak cobaan mulai dari penyiksaan yang dialami oleh pribadi-pribadi sampai pemboikotan yang mereka alami secara massal selama 3 tahun hingga 13 tahun lamanya, kafir Qurayspun mulai merencanakan makar untuk membunuh beliau QS.At Taubah : Yamkuru)
Ketika itu sejarah mencatat hanya ada sekitar 70an saja orang yang beriman di Mekkah. Orang sejumlah itu tidak diperintahkan oleh Rasulullah untuk bergerilya atau melancarkan serangan kepada pemerintahan Darun Nadwah, akan tetapi ketika kebanyakan kafir Qurays tidak menerima Islam, oleh Rasulullah SAW mereka ditinggalkan dan hijrah ke tempat dimana Islam dapat diterima. Demikianlah ketika misa risalah tidak diterima oleh suatu kaum dan tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk dapat menerima misi Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s