Ulama Suu’

MATERI KE-SEBELAS
TENTANG ULAMA SUU’
DAN MUJTAMA’ (RAKYAT) YANG BODOH
QS. Al-A’raf : 175-179
175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.
176. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.
178. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan Allah[*], Maka merekalah orang-orang yang merugi.
179. Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.
[*] Disesatkan Allah berarti : bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Allah memerintahkan kepada RasulNya Muhammad , untuk membacakan (mentilawahkan) kepada ummat Muhammad berita tentang orang yang telah Allah anugerahkan kepada mereka ayat-ayatNya tetapi kemudian dia terpedaya oleh godaan syaitan. Ada banyak riwayat yang menerangkan tentang kisah yang dimaksud dalam ayat ini, diantara yang masyhur bahwa yang dimaksud adalah seorang laki-laki yang hidup di jaman Bani Israil, demikian yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan ulama salaf lainnya.

Berkata Ali bin Abi Tholha bin Abbas: Yang dimaksud adalah Bal’am yang Allah anugerahkan kepadanya untuk mengetahui nama Allah yang agung sehingga Allah selalu mengabulkan doanya. Dia tinggal di negeri balqa’ atau di perkampungan Bani Kan’an di negeri Syam.

Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah seseorang yang diberi tiga doa mustajab, sementara dia memiliki seorang isteri dan beberapa orang anak. Berkata isterinya, “Berikanlah untukku satu dari tiga doa mustajabmu itu. Dia berkata, “Apa yang engkau inginkan wahai isteriku?”. Isterinya menjawab, ”Berdo’alah kepada Allah supaya menjadikanku orang yang tercantik dalam Bani israil”, Diapun berdoa dan dikabulkan Allah. Ketika dia mengetahui bahwa dialah wanita yang tercantik, kemudian dia menolak suaminya dan menginginkan yang lain. Maka suaminya pun berdoa supaya menjadikannya seekor anjing dan Allah kabulkan. Maka hilanglah dua dari tiga doa mustajabnya. Ketika mengetahui ibunya sudah menjadi anjing datanglah anak-anaknya meminta kepada ayahnya seraya berkata, “Wahai ayahanda, kami tidak akan bisa tenang selama ibu kami masih menjadi anjing, bagaimana orang memandang kami. Mohonlah wahai Ayahanda kepada Allah, agar Allah mengembalikan ibu kepada keadaan semula”. Maka diapun berdoa dan hilanglah ketiga doa mustajabnya dengan sia-sia.
Ini diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas.

Adapun dari riwayat Ali bin Abi Tholha dari Ibnu Abbas juga, bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bal’am yang semua doanya selalu dikabulkan Allah. Adapun kisah Bal’am ini telah dinukil dalam berbagai riwayat dengan kesimpulan yang berbeda-beda diantaranya bahwa Bal’am ini tinggal dalam keadaan terhormat pada kaumnya dan diberi semua fasilitas yang diinginkan dengan segenap kemewahannya, hanya saja dia tidak dapat mendatangi wanita. Dia dimuliakan oleh kaumnya karena do’anya yang selalu mustajab. Dikisahkan bahwa; ketika Musa datang membawa kebenaran dan diikuti oleh sebagian Bani Israil datanglah pasukan Musa mengajak kaum Bal’an untuk beriman, tapi mereka menolak sehingga datanglah pasukan Musa untuk menyerang mereka. Bal’an dipaksa oleh kaumnya untuk mendo’akan kehancuran atas Musa dan Bani Israil, berkali-kali ia menolak tetapi mereka terus memaksanya hingga sampailah ia di sebuah bukit yang disebut Husban, diapun berdo’a. tetapi setiap dia hendak mendo’akan kehancuran bagi Musa dan Bani Israil, Allah menggelincirkan lidahnya sehingga justeru dia mendo’akan kehancuran bagi kaumnya dan mendo’akan keselamatan bagi Musa dan Bani Isra’il. Kaumnya berkata; “tahukah apa yang engkau katakan wahai Bal’am?”, Dia menjawab; “Saya tidak bisa menguasai lidah saya, sehingga yang demikian itulah yang keluar dari lisan saya”. Diapun berguman, “Hari ini hilang lenyaplah sudah duniaku dan hilang pula akhiratku”.

Karena Bal’am tidak mungkin dapat mendo’akan kehancuran kecuali bagi kaumnya sendiri, maka diapun memberitahukan muslihat untuk menghancurkan Musa dan Bani Israil. Dia berkata: “Hiasilah wanita-wanita cantik dan berilah mereka barang dagangan untuk dijajakan kepada tentara Bani Israil dan katakan kepada mereka untuk tidak menolak, jika seseorang menginginkan diri mereka. Maka sesungguhnya jika seorang saja di antara mereka berzinah, cukuplah yang demikian itu untuk menghancurkan pasukan Bani Israil secara keseluruhan”.

Mereka melaksanakan saran Bal’am sehingga salah seorang di antara pembesar Bani Israil tergoda dan terpedaya. Maka Allah pun mengazab mereka dengan mengirim penyakit thaa’uun, hingga menewaskan hampir 70.000 (tujuh puluh ribu) orang pasukan Bani Israil. Ketika Finhas bin ‘Aizar, tangan kanan Musa datang dan diberitakan kepadanya tentang ihwal mereka, diapun segera mendatangi orang yang berzina itu di dalam kemahnya, sementara keduanya sedang berbaring, iapun lantas menghujamkan tombaknya pada keduanya sekaligus, membawanya keluar kemudian mengacungkannya ke langit, kemudian ia pun berseru: “Yaa Allah, beginilah kami mengganjar orang yang bermaksiyat kepada-Mu”, maka hilanglah wabah thaa’uun.

Demikianlah kisah Bal’am, yang mengetahui akan kebenaran tetapi dia keluar dari kebenaran itu, sehingga dia diperumpamakan oleh Allah seperti anjing yang mau saja tunduk dan patuh kepada tuannya demi kepentingan perutnya. Allah mengumpamakan setiap orang yang hanya mementingkan kepentingan perut dan syahwatnya seperti anjing, karena tidak ada yang lebih penting bagi anjing selain perut dan syahwatnya. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah SAW bersabda: “tiada lagi perumpamaan yang lebih buruk bagi seorang yang mengambil kembali pemberiannya, seperti anjing yang menelan kembali muntahnya”. Allah menerangkan bahwa di antara sifat anjing itu adalah selalu menjulurkan lidahnya, untuk menjelaskan bahwa orang yang tidak pernah puas dengan karunia Allah dan terpedaya oleh godaan dunia hingga ia mengorbankan keimanannya meski diperingati atau tidak diperingati sama saja bagi mereka, seperti sifat anjing yang dihalau ataupun tidak dihalau tetap dia menjulurkan lidahnya. “…..Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (ayat 176).

Diriwayatkan oleh Hafidz Abu Ya’la dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah seorang yang mengerti Al-Qur’an hingga nampak kewibawaan pada dirinya dan dia senantiasa bersorbankan Islam, lalu Allah mengujinya hingga dia keluar dari jalur Islam dan meletakkan Islam di belakang punggungnya dan mengangkat pedang (senjata) atas tetangganya dan menuduhnya Musyrik (atas tuduhan syirik). Berkata Hudzaifah: “aku bertanya: Wahai Nabi Allah manakah di antara keduanya yang lebih layak dikatakan Musyrik, yang dituduh atau yang menuduh?” beliau bersabda: “yang menuduh!”. Isnad hadits ini jayyid dan diperkuat oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Mu’in dan lainnya. Tafsir Ibnu Katsir zuz 3, hal, 252.

Berkata Shekh Abdullah Azzam Rahimahullah ta’ala: “yang dimaksud dalam ayat ini adalah Ulama suu’ yang apabila diberi kemewahan oleh penguasa negerinya seperti Bal’am maka ia bersedia melakukan apa saja yang diperintahkan kepadanya, seperti kepatuhan anjing kepada tuannya”….amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim (ayat 177).

Ayat berikutnya menerangkan bahwa; barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah dan berjalan di atas petunjuk itu, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
Dalam hal ini Allah menerangkan pula bahwa; neraka Jahannam telah disiapkan Allah bagi segolongan jin dan manusia yang buta mata hatinya dan tuli pendengarannya dari kebenaran dan mengumpamakan mereka seperti binatang ternak, firman Allah SWT.:

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Jika pada ayat sebelumnya Allah mengumpamakan segelintir arang yang pintar, berilmu dan berpengetahuan, seperti anjing, maka dalam ayat ini Allah mengumpamakan kebanyakan jin dan manusia yang bodoh lagi dungu seperti binatang ternak yang mau saja dicocok hidungnya untuk digiring ke arah mana yang diinginkan oleh tuannya tanpa mempergunakan hati, mata dan telinga mereka untuk memperhatikan ayat-ayat Allah, agar mereka mengetahui dengan pasti ke arah mana mereka digiring. Bahkan Allah menyebutkan bahwa manusia yang seperti itu dapat lebih buruk dan lebih sesat dari binatang ternak karena kebodohan mereka, sementara mereka telah diberi anugerah akal dan fikiran untk membedakan antara kebenaran dan kebathilan.
 •          
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli[*] yang tidak mengerti apa-apapun. (QS. Al-Anfal:22).
[*] Maksudnya: manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran.

Kita berlindung kepada Allah agar tidak menjadi seumpama anjing, tidak pula seumpama binatang tedrnak, apalagi menjadi lebih sesat dari keduanya. Ya Allah berilah kami hati yang senantiasa bersyukur….., mata yang yang terbuka atas setiap kebaikan dan kebenaran…., telinga yang selalu mendengar seruan kepada kebaikan…., dan seluruh anggauta badan yang ringan dalam mengamalkan kebaikan. Yaa Allah yaa Robbanaa….kabulkanlah setiap yang baik dari doa doa kami, sesungguhnya Engkau Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Amin!.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s